Membaca novel vs buku teks

Bagi kebanyakan orang pada umumnya gemar membaca novel dibandingkan membaca buku kuliah atau paper-paper ilmiah. Bahkan para penggemar novel lebih betah dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan bacaan novelnya serta larut dalam ceritanya. Namun bagi pelajar/mahasiswa jika diminta untuk membaca buku pelajaran/kuliah/paper maka akan timbul rasa malas dan memilih untuk meletakkan bukunya di atas meja dalam keadaan tertutup. Banyak pelajar atau mahasiswa akan “terpaksa” membaca buku pelajaran/kuliah/paper menjelang musim ujian atau ketika dateline tugas. Seperti itulah budaya pelajar atau mahasiswa masa kini.

Jarang sekali saya menemukan komunitas yang membahas/berdiskusi mengenai materi pelajaran/kuliah diluar sekolah/kampus. Dan banyak sekali orang-orang/komunitas yang membahas novel-novel terbaru & saling bercerita betapa cepatnya mereka menyelesaikan bacaan novel terbaru hanya dalam hitungan hari. Sebagian orang menganggap jika tahu informasi  dan bercerita kepada orang awam mengenai novel terbaru maka akan dianggap “gaul” dan mengikuti tren (novel terbaru) saat ini. Sedangkan orang-orang yang tahu dan bercerita mengenai materi pelajaran/kuliah maka akan dianggap “aneh”, “kutu buku”, atau “weird”   dan dijamin orang yang diajak ngomong akan malas mendengarnya🙂.

Ketika seseorang telah menyelesaikan masa studinya dan terjun dalam dunia kerja maka orang tersebut merasa gembira dan senang karena salah satu alasan kegembiraannya adalah “terbebas” dari urusan tugas-tugas sekolah/kuliah dan tidak lagi “dipaksa” membaca buku-buku teks. Padahal ketika seseorang telah terjun di dunia kerja bukan berarti tidak belajar hal-hal baru, justru didunia kerja adalah “kampus/sekolah” yang sesungguhnya dimana para pekerja dituntut belajar cepat mengenai hal-hal yang terkait didalam posisi atau tugasnya. Bisa jadi apa yang diperoleh di dalam bangku pendidikan berbeda dengan apa yang dikerjakan di dalam dunia kerjanya.

Bagi saya, saya lebih terbiasa membaca buku teks sejak sekolah dasar. Sewaktu saya SD hingga kuliah  saya tidak pernah membaca novel dan tidak mempunyai satu pun koleksi novel di rumah. Hal ini dikarenakan orang tua  selalu mewajibkan saya untuk membaca dan mempelajari semua buku-buku pelajaran, dan serta mendisiplinkan saya untuk tidur setelah semua tugas sekolah selesai dikerjakan.  Jika ada waktu luang hanya diperbolehkan menonton TV.  Bagi orang tua saya, membaca novel adalah pemborosan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Dan membeli novel adalah pemborosan uang untuk barang yang tidak penting.

Ketika saya mulai masuk ke dalam dunia kerja, saya baru tertarik dengan novel. Ada beberapa novel yang saya sukai : salah satunya adalah “Selimut Debu”, “Taj Mahl”, “Kisah 1001 malam”, “Bumi Cinta”. Koleksi novel saya sangat sedikit. Saya tidak menyukai novel yang tebal karena membuat saya malas membacanya, jika novel dijadikan film maka saya akan lebih tertarik untuk menonton filmnya daripada membaca novel yang sangat tebal. Namun saya mempunyai impian suatu saat nanti saya bisa membuat sebuah novel karya sendiri.

Jika orang-orang lebih menyukai membaca novel maka saya lebih tertarik untuk membaca buku teks karena dengan membaca buku teks maka akan mengupdate dan upgrade knowledge saya. Saya lebih interest untuk berdiskusi mengenai suatu ilmu (yang berkaitan dengan bidang saya), dan jika saya diajak berdiskusi mengenai novel maka saya akan memilih diam dan berdengarkan cerita mereka mengenai novel tersebut.

Bagi saya, saya lebih suka dianggap kuper atau antisosial dibandingkan dianggap “bodoh/stupid” oleh lawan bicara saya. Untuk itulah saya terus-menerus mengupdate dan upgrade knowledge dan tidak pernah berhenti belajar.

Jika mempunyai waktu luang maka saya akan memilih untuk membaca buku teks dibandingkan membaca novel, bagaimana dengan Anda? Apapun itu yang terpenting bacalah apa yang Anda sukai🙂

Saat ini saya tengah menyelesaikan bacaan free-book : A Web Semantic Primer.

2 thoughts on “Membaca novel vs buku teks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s